Senin, 23 Maret 2015

KETERTARIKAN KEPADA TOKOH PKI

Bertahun-tahun penguasa Orba menempatkan mereka sebagai mitos sejarah yang haram untuk diwacanakan.

SEORANG pria berparas dingin, dengan mulut berlumur asap, serius berkata, “Jawa adalah kunci…”, “Djam D kita adalah pukul empat pagi…”, “Kita tak boleh terlambat…!”
Dipa Nusantara Aidit pada 1980-an adalah Syu’bah Asa dalam film berjudul Pengkhianatan G-30-S/PKI. Melalui film itu, Syu’bah berhasil menciptakan bayang-bayang di pikiran masyarakat tentang sosok Aidit: lelaki jahat penuh muslihat, haus kekuasaan, dan dengan dingin memerintahkan pembunuhan para jenderal.
Tapi itu dulu saat Orde Baru masih berkuasa. Ketika tafsir sejarah tentang Partai Komunis Indonesia (PKI) dan tokoh-tokohnya hanya milik penguasa. Pascagerakan reformasi 1998, yang diikuti dengan  jatuhnya kekuasaan Soeharto, masyarakat mempertanyakan kebenaran tafsir itu. Berbagai studi tentang gerakan kiri di Indonesia bermunculan. Tak terkecuali tentang Aidit, Njoto, dan Sjam Kamaruzzaman, yang coba ditelusuri majalah Tempo. Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari Liputan Khusus majalah itu.
Masa kecil dan muda Aidit tidaklah semengerikan yang digambarkan Orde Baru. Dia lahir di Belitung, Sumatra Selatan, pada 30 Juli 1923 dengan nama Achmad Aidit, dari keluarga terpandang dan berada. Achmad dikenang sebagai sosok abang yang pelindung. Di kampung, Achmad muda dikenal pandai bergaul dan jago berenang. Pun, seperti kebanyakan pemuda Belitung seusianya, dia rajin mengaji. Achmad bahkan terkenal sebagai tukang azan.
Garis politik Achmad terbentuk sejak dia rajin bergaul dengan buruh-buruh Gemeenschappelijke Mijnbouw Mattschappij Billiton, perusahaan timah milik Belanda, yang letaknya sekitar dua kilometer dari tempat tinggalnya. Tapi karier politiknya baru dimulai saat dia bergabung dengan Persatuan Timur Muda, sebuah perkumpulan pemuda yang dimotori oleh Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo), di bawah pimpinan Amir Syarifuddin dan Dr. Adenan Kapau Gani. Kecerdasan dan keluwesan Achmad segera membawanya menjadi ketua umum Pertimu. Di saat aktivitas politiknya menanjak cepat itulah Achmad Aidit mengganti nama depannya menjadi Dipa Nusantara Aidit.
Menjelang proklamasi, Aidit yang tergabung dalam kelompok pemuda Asrama Mahasiswa Menteng 31, terlibat dalam aksi heroik penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Semangat revolusi Aidit membuncah ketika Musso datang dari Rusia. Baginya, kehadiran Musso menjanjikan aksi, bukan sekadar angan revolusi. Selang waktu sebulan setelah Aidit menerima jabatan koordinator seksi perburuhan partai, pecah Peristiwa Madiun 1948. Aidit buron. Kabar tersiar dia kabur ke Vietnam Utara. Ada pula yang mengatakan dia hanya modar-mandir Jakarta-Medan.
Dua tahun kemudian Aidit muncul lagi. Bersama Njoto dan Lukman, dia mengkonsolidasikan kekuatan partai yang sempat limbung dan terpecah-belah. Dalam waktu cepat, “trisula” ini berhasil mengembalikan kebesaran partai. Tahun 1954 Aidit mengambil-alih kepemimpinan dari kelompok tua, Alimin dan Tan Ling Djie, serta membawa PKI menjadi partai terbesar keempat dalam pemilu 1955.
Aidit bercita-cita menjadikan Indonesia negara komunis. Dia punya teori sendiri tentang Revolusi. Baginya, revolusi bisa berhasil jika disokong setidaknya 30 persen kekuatan tentara. Tapi teorinya meleset. Gerakan 30 September 1965 yang dia rencanakan gagal. Aidit tutup buku dengan cara tragis: di Solo tentara menangkapnya dan menghujaninya dengan satu magazin peluru kalashnikov.
Njoto berbeda dengan kebanyakan orang komunis. Penampilannya necis. Jiwa seninya cenderung melankolis. Meski akrab dengan pemikiran Marxis dan Leninis, Njoto tak menganggap “kapitalis” harus selalu dimusuhi. Dia belajar politik secara sembunyi-sembunyi. Keluarganya nyaris tak mengetahuinya.
Petualangan politik Njoto dimulai ketika terlibat dalam perebutan senjata Jepang di Surabaya, Bangil, dan Jember. Sampai suatu hari muncul berita: Njoto menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Yogyakarta, sebagai wakil ketua PKI Banyuwangi.
Njoto berkenalan dengan Aidit dan Lukman di Yoyakarta. Kesamaan ideologi membuat ketiganya cepat akrab. Njoto menjabat wakil Sekjen II lalu wakil ketua II CC PKI. Dalam prahara 30 September 1965, banyak orang tak percaya keterlibatan Njoto. John Rossa dalam Dalih Pembunuhan Massal menulis, “Dalam semua diskusi, kawan Njoto dengan sadar tidak diikutsertakan oleh kawan Aidit, dengan pertimbangan ideologis.” Aidit menganggap Njoto lebih Sukarnois ketimbang komunis. Sementara wartawan senior Joesoef Isak menganggap ketidaksenangan Aidit terhadap Njoto karena Njoto, yang telah beristri, memiliki kekasih, seorang perempuan asal Rusia. Bagi Aidit, perbuatan Njoto tak etis dan mengganggu citra partai. Joesoef Isak menambahkan, sejak 1964 Njoto sudah diberhentikan dari semua jabatan fungsional di partai.
Dalam wawancara dengan Asahi Shimbun, 2 Desember 1965, Njoto mempertanyakan dasar logika gerakan itu: “Apakah premis Letkol Untung tentang adanya Dewan Jenderal membenarkan adanya suatu coup d’etat?”
Di mata anak-anaknya, Njoto dikenal sebagai sosok ayah penyayang. Di waktu senggang, Njoto kerap mengajak keluarganya berlibur naik trem atau berpakansi ke pantai. Kebahagiaan keluarga ini sirna pascaperistiwa 1965. Njoto jadi pelarian. Kabar tersiar dia ditangkap tentara dan kemudian dieksekusi mati. Sayang, keluarga Njoto tak pernah tahu jasad atau makamnya.
Tokoh PKI lain yang kerap disangkutpautkan dalam peristiwa 1965 adalah Sjam Kamaruzzaman. Sjam lelaki misterius asal Tuban, Jawa Timur. Polisi militer mencatat setidaknya terdapat lima nama alias yang dimiliki Sjam: Djimin, Sjamsudin, Ali Moechtar, Ali Sastra, dan Karman. Sjam merupakan mozaik penting dalam prahara itu. Tapi kisah hidup Sjam lebih mirip mitos ketimbang sejarah. Bahkan banyak petinggi PKI tak tahu siapa dirinya.
Aidit mengenal Sjam ketika keduanya aktif di Serikat Buruh Kapal Pelabuhan di Tanjung Priok tahun 1949. Ketika pada 1964 istri Sjam meninggal akibat tifus, Aidit makin dekat dengan Sjam. Dia meminta Sjam mengetuai sebuah organisasi rahasia PKI, yang disebut Biro Khusus. Tugas Biro Khusus mempengaruhi dan mengurus kelompok tentara yang berhaluan kiri.
Dalam operasi G30S, Aidit kurang korektif dengan laporan Sjam yang kerap tak akurat. Satu batalyon Pasukan Gerak Cepat TNI Angkatan Udara yang direncanakan datang, tak pernah muncul. Pasukan tank dan panser yang diharapkan datang dari Bandung pun tak pernah ada. Dan Bung Karno, yang digadang-gadang sebagai dalil aksi, juga menolak untuk menyetujuinya. Operasi itu dapat dilumpuhkan hanya dalam hitungan jam.
Kurang lebih dua tahun Sjam menjadi pelarian dengan melakukan penyamaran dari satu kota ke kota lainnya. Sampai akhirnya dia tertangkap pada 9 Maret 1967, di tempat persembunyian di Cimahi, Jawa Barat. Di penjara, Sjam dikabarkan menjadi informan tentara untuk membocorkan siapa saja anggota militer yang memiliki kaitan dengan PKI.
Sama seperti Njoto, akhir riwayat Sjam tak pernah jelas. Menurut sebuah versi, Sjam dieksekusi mati pada September 1986 di Kepulauan Seribu. Tapi toh keluarga Sjam tetap tak mengetahui kebenaran versi ini.
Kisah Aidit, Njoto, dan Sjam dalam buku ini menunjukan kepada kita bahwa perjalanan hidup seorang anak manusia dalam bingkai sejarah tidaklah bisa ditempatkan secara hitam dan putih. Dan terlepas dari segala misteri serta kontroversi yang menyelimuti ketiganya, agaknya tokoh-tokoh kiri ini memiliki jalan takdir yang sama dengan sebuah ungkapan “revolusi memakan anaknya sendiri.”

kisah sang kucing

Harta,tahta dan wanita. garis bawahi WANITA.. banyak jantan cenderung jatuh karna betina., itulah realita yang sudah terjadi sejak sedari dulu. salah satu contoh kasus adalah ketika Nabi Adam AS harus diturunkan kebumi karna Siti hawa, iblis tidak mampu menggoda adam sehingga iblis menggoda hawa dan membisikan untuk menggoda adam, sehingga terjadilah peristiwa dimana adam dan hawa memakan buah quldi yang bahkan ALLAH melarang mereka mendekati pohon nya.. hmhmhm
Dan peristiwa serupapun ternyata bisa terjadi pada kucingku, ohhhh
sungguh malangnya nasib kucingku... tp tidak selamanya koc Wanita membuat pria jatuh, karna banyak juga pria sukses karna ada wanita hebat di sampingnya.. semua itu tergantung pada siwanitanya.


cing, dia sudah termakan oleh buaian stts dunia dan pergi meninggalkanmu,
cing, apa yang telah dipilihnya belum tentu lebih baik dari dirimu, maka berusahalah untuk tetap jadi yang terbaik.
cing, tak usah lagi kao mengharapkan betina itu, dia tidaklah lebih berharga dari hidupmu, masi banyak betina-betina lain yang jauh lebih baik darinya dan tidak melihat hanya dari stts dunia, lepaskanlah belenggu cintanya cing, lepaskanlah kucingku.

Minggu, 22 Maret 2015

Andaikan kemiskinan itu berbentuk manusia...
akanku penggal keplanya hingga darahnya mengalir di atas tanah orang miskin.

AWAL MENUJU MAKASSAR (KOTA DAENG)


                                             

Makassar, tidak pernah terfikir sebelumnya di kepalaku sebelum seorang teman (Parjo) mengajaku untuk melanjutkan pendidikan di tanah daeng tersebut.
Pada Awalnya diriku tidak pernah diijinkan oleh ibuku untuk melanjutkan pendidikan di makassar dengan alasan dirikuku tidak memiliki sanak saudara di sana yang akan mengurusiku ketika terjadi sesuatu, Namun karna bujukan terus-menerus dariku,hati Ibukupun luluh dan mengijinkanku untuk pergi ke Tanah daeng.
Dan ditanah daeng akupun mulai mendapatkan hal-hal baru dan kenalan baru yang sangat-sangat aku hargai, Mereka Adalah: Muslimin, Bung dayat, Kakanda Efendi, Kakanda Ila dan Iphul, merekalah orang-orang yang menampungku ketika aku berada  di makassar.
Akupun mulai mendaftarkan diriku disalah satu kampus Negeri yang ada di makassar begitu pula juga dengan sang teman yang mengajakku untuk melanjutkan penddikan di makassar, Namun kami sama-sama gagal pada tes pertama, Setelah diriku gagal di tes pertama, akupun tak mau ikut tes ke dua dan aku mendaftarkan diriku di salah satu perguruan tinggi swasta (UNIVERSITAS 45 MAKASSAR) dan mengambil program studi Teknik Arsitektur Akupun diterima dengan sangat mudah di kampus tersebut, Sebaliknya sang Temanku (Parjo) mengikuti tes kedua di kampus Negeri namun diapun gagal lagi dalam tes kedua dan akhirnya dengan sikap pengecut dan sedikit rasa malu dia meninggalkan ku ditanah daeng, Tanah yang begitu dia agung-agungkan sebelum mengalami dua kali kegagalan dan pergi melanjutkan pendidikan nya di Mataram, Sungguh suatu sikat Pengecut dan Tak bisa menerima kenyataan, Itulah yang tersirat dalam benaku saat itu, Dia yang mengajakku dan dia pula yang meninggalkanku.
Tapi disisi lain Akupun bersyukur karna hal itu aku mendapatkan sesuatu yang berharga,
yang mungkin tidak akan kudapatkan ketika hal itu tidak terjadi, yaitu pandangan Dunia.

Tahun ajaran barupun dimulai, di awali dengan yang namanya PENGKADERAN  masa-masa dimana hak asasimu sebagai manusia dihilangkan oleh seniormu dengan undanga-undang yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 1. Senior tidak pernah salah, pasal 2. Bila senior salah kembali ke pasal 1, Namun di balik semua itu terdapat pelajaran yang sangat berharga
bagi orang-orang yang mengalaminya, dimana menjadi mahasiswa itu tidaklah muda, dimana kita harus menanggung tanggung jawab sosial seperti, menjadi agen perubah, pengontrol sosial, penganalisa sosial sehingga tercerminlah moral yang baik.
Che guavara pernah mengatakan: “Pemudah adalah tulang punggung revolusi”.
Bungkarno pernah mengatakan: “Berikan aku 1000 orang Tua niscaya aku akan memindah sebuah gunung, Berikan Aku 10 Pemuda niscaya Aku akan mengguncang Dunia”.
Tidak semua pemuda Adalah Mahasiswa tapi, Semua Mahasiswa adalah pemuda,
Jadi Betapa bangganya diriku menjadi seorang Mahasiswa, Karna tidak semua orang mampu untuk memiliki gelar tersebut, sewalaupun gelar ini kudapatkan dengan pengorbanan jiwa dan raga dari kedua orang Tuaku.

Untuk itu, Aku ingin Mengatakan Pada kedua orang Tuaku, Terima kasi Ibu, Terima kasih Ayah, Tampa kalian Anakmu ini takan pernah mampu mendapatkan gelar yang sangat  mulia ini, Gelar yang belum tentu semua orang bisa memilikinya,Diriku berjanji akan mempertanggung jawabkan apa yang telah kalian percyakan terhadap diriku ini.

Hari demi haripun terus berlalu, namun hari-hari itu tidaklah semulus yang di bayangkan dimana diriku harus melewati segala macam tantangan dan rintangan, salah satunya adalah ketika tak ada kiriman dari orang tua dan mungkin semua mahasiswa rantau pernah mengalami hal serupa, Namun semua itu merupakan suatu pelajaran dimana untuk mendapatkan titel sarjana itu tidaklah mudah, Apalagi dirimu adalah seorang mahasiswa rantau, Resiko tidak makan berhari-haripun harus kau terima dengan lapang dada, Lantas pertanyaan nya adakah cara untuk mengatasi hal tersebut?
Jawaban nya “ADA” yaitu dengan cara perbanyak teman dan ngga punya malu.


                                  SANG ADIK YANG TAK BISA MEMILIKI SEPATU BARU

Mungkin banyak mahasiswa yang kulia dengan berkecukupan namun itu tidak terjadi pada diriku, dimana orang tuaku harus bersusah payah mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membayar uang kuliaku hingga merekapun lupa untuk membelikan sepatu baru untuk adiku dikarenakan uang yang orang tuaku kumpulkan akan dikirimkan padaku untuk mebayar kulia tampa ada sisa untuk adik-adikku,sungguh pahitnya hidup ini, Bahkan seorang adikpun harus berkorban untuk kakaknya, Maafkan aku adik-adikku, maafkan abangmu ini, karna diriku kalian tak bisa memiliki sepatu baru, Aku bejanji pada kalian adik-adiku aku takan pernah menyia-nyaikan pengorbanan kalian untuk diriku.

                                                                

                                                                          GADISKU

Awal yang tak pernah terduga, perkenalan dengan seorang gadis yang begitu mencintaiku sepenuh hati dan rela berkorban untuk diriku, berawal dari keisengan seorang temanku yang mengatas namakan diriku dan menggoda seorang gadis, suatu kejadian yang tak pernah terduga sebelumnya, namun sejak peristiwa itulah aku kenal dirinya, seorang gadis yang mau berkorban untuk diriku, naumun apa yang dia dapatkan dariku, hanyalah luka yang berulang-ulang kali, mungkin bagi gadis-gadis lain ketika diperlakukan seperti itu akan langsung meninggalkan diriku, namun tidak dengan dirinya dia tetap bertahan dan bertahan membiarkan aku dan mulut ini bosan dengan sendirinya untuk melukainya, sungguh gadis yang tegar.


Gadisku, Aku bukanlah tentara yang berjalan tegap dengan senjata yang mereka gendong ditangan nya,aku bukanlah polisi yang sewalaupun tak mengerti undang-undang namun mereka adalah penegak hukum dan aku bukanlah salah satu dari orang-orang borjuis yang dengan uangnya semua jalanpun akan bisa dibenarkan.
Gadisku, Aku hanyalah mahasiswa kere yang bila berbicara akan dikawal bagaikan teroris dan bila berteriak akan di tembaki bagaikan binatang buruan.
Gadisku, Mungkin aku adalah bajingan, namun aku bukanlah salah satu dari orang-orang yang dengan kekuasaan nya menindas para jelata.
Gadiku, Bila mereka berkata kepadamu, tak perlu kau dengarkan karna mereka takan pernah memberikan jawaban yang sebenarnya tentangku, karna jawaban yang sebenarnya hanya bisa kau dapatkan dariku dan jawaban itu adalah Aku membutuhkanmu hari ini, esok dan selamanya.




                                        PERCAKAPAN ANAK KOS DENGAN

                                    
            Suatu hari terjadi percakapan yang serius antara Bapak kos dan Anak kos,
Dal        dalam percakapan itu mereka membicarakan tentang rencana kenaikan uang semester
    di kampus si anak kos.

Bpk kos    : Pulang dari mana gondrong?
Anak kos : Dari masjid pak..!
Bpk kos    : Tumben kamu pergi ke masjid, pergi shalat ya..?
Anak kos : Iya Pak, soalnya saya mau berdo’a smoga uang kulia saya semester depan
                    tidak di naikan..!
Bpk kos   :  Owh,muda-mudahan saja do’amu di kabulkan oleh Tuhan gondrong.
Anak kos : Muda-mudahan saja Pak, Saya sangat berharap,Soalnya orang Tua saya hanya         
                    seorang buruh Tani, penghasilan nya tak tentu, untuk bayar kuliah saya yang
                    sa’at ini saja sudah cukup memberatkan,apalagi kalau sampai nanti Naik.
Bpk kos   : Sabar saja gondrong Mungkin Nanti pemerintah bisa membantu masalah
                    kalian, dengan menegosiasikan dengan pemilik yayasan di kampusmu.
Anak kos : Jangankan untuk membantu kami, melihatnya saja mungkin mereka tak sudih,
                   mereka sudah terlalu di sibukan oleh lomba menimbun hasil korupsi, makanya 
                   sekarang saya mau perbanyak berdo’a di masjid, mungkin saja bisa ada
                   keajaiban yang turun dari langit Pak.
Bpk kos  : Amin, Muda-mudahan saja ya gondrong..

                                                     TANYAKU TERHADAP CING

Cing, Apakah kamu merasa apa yang aku rasakan, Jiwa yang lelah dan hati yang tak mampu lagi meronta, Akankah kau merasakan hati yang terbebani setelah kita bosan akan kemunafikan dan hidup yang tak adil.
Cing, Aku berharap keajaiban turun dari langit seperti hujan membasahi negeri ini setelah sekian lama merasakan tandus.
Bayi-bayi yang menangis karna ibunya sudah tak mampu lagi membeli susu.
Anak-anak yang kehilngan tempat bermain karna tempat bermainnya telah didirikan bangunan bertingkat.
Para serjana muda yang menjadikan ijazahnya sebagai pembungkus nasi karna tak ada lagi lapangan pekerjaan.
Semua adalah mimpi buruk bagiku.
Cing, Apakah ini dunia yang kita impi-impikan, Apakah ini dunia yang kita
 idam-idamkan,setelah kita merasa bosan hidup dan ingin segera merasakan mati.
Cing, Kuharap kau pahami, Kuharap kau merasa, kuharap kaumelihat, seperti apa yang sedang kualami.
Cing, Kuharap keyakinanku akan terang diujung gelap tidak akan pernah memudar.