Minggu, 22 Maret 2015

AWAL MENUJU MAKASSAR (KOTA DAENG)


                                             

Makassar, tidak pernah terfikir sebelumnya di kepalaku sebelum seorang teman (Parjo) mengajaku untuk melanjutkan pendidikan di tanah daeng tersebut.
Pada Awalnya diriku tidak pernah diijinkan oleh ibuku untuk melanjutkan pendidikan di makassar dengan alasan dirikuku tidak memiliki sanak saudara di sana yang akan mengurusiku ketika terjadi sesuatu, Namun karna bujukan terus-menerus dariku,hati Ibukupun luluh dan mengijinkanku untuk pergi ke Tanah daeng.
Dan ditanah daeng akupun mulai mendapatkan hal-hal baru dan kenalan baru yang sangat-sangat aku hargai, Mereka Adalah: Muslimin, Bung dayat, Kakanda Efendi, Kakanda Ila dan Iphul, merekalah orang-orang yang menampungku ketika aku berada  di makassar.
Akupun mulai mendaftarkan diriku disalah satu kampus Negeri yang ada di makassar begitu pula juga dengan sang teman yang mengajakku untuk melanjutkan penddikan di makassar, Namun kami sama-sama gagal pada tes pertama, Setelah diriku gagal di tes pertama, akupun tak mau ikut tes ke dua dan aku mendaftarkan diriku di salah satu perguruan tinggi swasta (UNIVERSITAS 45 MAKASSAR) dan mengambil program studi Teknik Arsitektur Akupun diterima dengan sangat mudah di kampus tersebut, Sebaliknya sang Temanku (Parjo) mengikuti tes kedua di kampus Negeri namun diapun gagal lagi dalam tes kedua dan akhirnya dengan sikap pengecut dan sedikit rasa malu dia meninggalkan ku ditanah daeng, Tanah yang begitu dia agung-agungkan sebelum mengalami dua kali kegagalan dan pergi melanjutkan pendidikan nya di Mataram, Sungguh suatu sikat Pengecut dan Tak bisa menerima kenyataan, Itulah yang tersirat dalam benaku saat itu, Dia yang mengajakku dan dia pula yang meninggalkanku.
Tapi disisi lain Akupun bersyukur karna hal itu aku mendapatkan sesuatu yang berharga,
yang mungkin tidak akan kudapatkan ketika hal itu tidak terjadi, yaitu pandangan Dunia.

Tahun ajaran barupun dimulai, di awali dengan yang namanya PENGKADERAN  masa-masa dimana hak asasimu sebagai manusia dihilangkan oleh seniormu dengan undanga-undang yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 1. Senior tidak pernah salah, pasal 2. Bila senior salah kembali ke pasal 1, Namun di balik semua itu terdapat pelajaran yang sangat berharga
bagi orang-orang yang mengalaminya, dimana menjadi mahasiswa itu tidaklah muda, dimana kita harus menanggung tanggung jawab sosial seperti, menjadi agen perubah, pengontrol sosial, penganalisa sosial sehingga tercerminlah moral yang baik.
Che guavara pernah mengatakan: “Pemudah adalah tulang punggung revolusi”.
Bungkarno pernah mengatakan: “Berikan aku 1000 orang Tua niscaya aku akan memindah sebuah gunung, Berikan Aku 10 Pemuda niscaya Aku akan mengguncang Dunia”.
Tidak semua pemuda Adalah Mahasiswa tapi, Semua Mahasiswa adalah pemuda,
Jadi Betapa bangganya diriku menjadi seorang Mahasiswa, Karna tidak semua orang mampu untuk memiliki gelar tersebut, sewalaupun gelar ini kudapatkan dengan pengorbanan jiwa dan raga dari kedua orang Tuaku.

Untuk itu, Aku ingin Mengatakan Pada kedua orang Tuaku, Terima kasi Ibu, Terima kasih Ayah, Tampa kalian Anakmu ini takan pernah mampu mendapatkan gelar yang sangat  mulia ini, Gelar yang belum tentu semua orang bisa memilikinya,Diriku berjanji akan mempertanggung jawabkan apa yang telah kalian percyakan terhadap diriku ini.

Hari demi haripun terus berlalu, namun hari-hari itu tidaklah semulus yang di bayangkan dimana diriku harus melewati segala macam tantangan dan rintangan, salah satunya adalah ketika tak ada kiriman dari orang tua dan mungkin semua mahasiswa rantau pernah mengalami hal serupa, Namun semua itu merupakan suatu pelajaran dimana untuk mendapatkan titel sarjana itu tidaklah mudah, Apalagi dirimu adalah seorang mahasiswa rantau, Resiko tidak makan berhari-haripun harus kau terima dengan lapang dada, Lantas pertanyaan nya adakah cara untuk mengatasi hal tersebut?
Jawaban nya “ADA” yaitu dengan cara perbanyak teman dan ngga punya malu.


                                  SANG ADIK YANG TAK BISA MEMILIKI SEPATU BARU

Mungkin banyak mahasiswa yang kulia dengan berkecukupan namun itu tidak terjadi pada diriku, dimana orang tuaku harus bersusah payah mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membayar uang kuliaku hingga merekapun lupa untuk membelikan sepatu baru untuk adiku dikarenakan uang yang orang tuaku kumpulkan akan dikirimkan padaku untuk mebayar kulia tampa ada sisa untuk adik-adikku,sungguh pahitnya hidup ini, Bahkan seorang adikpun harus berkorban untuk kakaknya, Maafkan aku adik-adikku, maafkan abangmu ini, karna diriku kalian tak bisa memiliki sepatu baru, Aku bejanji pada kalian adik-adiku aku takan pernah menyia-nyaikan pengorbanan kalian untuk diriku.

                                                                

                                                                          GADISKU

Awal yang tak pernah terduga, perkenalan dengan seorang gadis yang begitu mencintaiku sepenuh hati dan rela berkorban untuk diriku, berawal dari keisengan seorang temanku yang mengatas namakan diriku dan menggoda seorang gadis, suatu kejadian yang tak pernah terduga sebelumnya, namun sejak peristiwa itulah aku kenal dirinya, seorang gadis yang mau berkorban untuk diriku, naumun apa yang dia dapatkan dariku, hanyalah luka yang berulang-ulang kali, mungkin bagi gadis-gadis lain ketika diperlakukan seperti itu akan langsung meninggalkan diriku, namun tidak dengan dirinya dia tetap bertahan dan bertahan membiarkan aku dan mulut ini bosan dengan sendirinya untuk melukainya, sungguh gadis yang tegar.


Gadisku, Aku bukanlah tentara yang berjalan tegap dengan senjata yang mereka gendong ditangan nya,aku bukanlah polisi yang sewalaupun tak mengerti undang-undang namun mereka adalah penegak hukum dan aku bukanlah salah satu dari orang-orang borjuis yang dengan uangnya semua jalanpun akan bisa dibenarkan.
Gadisku, Aku hanyalah mahasiswa kere yang bila berbicara akan dikawal bagaikan teroris dan bila berteriak akan di tembaki bagaikan binatang buruan.
Gadisku, Mungkin aku adalah bajingan, namun aku bukanlah salah satu dari orang-orang yang dengan kekuasaan nya menindas para jelata.
Gadiku, Bila mereka berkata kepadamu, tak perlu kau dengarkan karna mereka takan pernah memberikan jawaban yang sebenarnya tentangku, karna jawaban yang sebenarnya hanya bisa kau dapatkan dariku dan jawaban itu adalah Aku membutuhkanmu hari ini, esok dan selamanya.




                                        PERCAKAPAN ANAK KOS DENGAN

                                    
            Suatu hari terjadi percakapan yang serius antara Bapak kos dan Anak kos,
Dal        dalam percakapan itu mereka membicarakan tentang rencana kenaikan uang semester
    di kampus si anak kos.

Bpk kos    : Pulang dari mana gondrong?
Anak kos : Dari masjid pak..!
Bpk kos    : Tumben kamu pergi ke masjid, pergi shalat ya..?
Anak kos : Iya Pak, soalnya saya mau berdo’a smoga uang kulia saya semester depan
                    tidak di naikan..!
Bpk kos   :  Owh,muda-mudahan saja do’amu di kabulkan oleh Tuhan gondrong.
Anak kos : Muda-mudahan saja Pak, Saya sangat berharap,Soalnya orang Tua saya hanya         
                    seorang buruh Tani, penghasilan nya tak tentu, untuk bayar kuliah saya yang
                    sa’at ini saja sudah cukup memberatkan,apalagi kalau sampai nanti Naik.
Bpk kos   : Sabar saja gondrong Mungkin Nanti pemerintah bisa membantu masalah
                    kalian, dengan menegosiasikan dengan pemilik yayasan di kampusmu.
Anak kos : Jangankan untuk membantu kami, melihatnya saja mungkin mereka tak sudih,
                   mereka sudah terlalu di sibukan oleh lomba menimbun hasil korupsi, makanya 
                   sekarang saya mau perbanyak berdo’a di masjid, mungkin saja bisa ada
                   keajaiban yang turun dari langit Pak.
Bpk kos  : Amin, Muda-mudahan saja ya gondrong..

                                                     TANYAKU TERHADAP CING

Cing, Apakah kamu merasa apa yang aku rasakan, Jiwa yang lelah dan hati yang tak mampu lagi meronta, Akankah kau merasakan hati yang terbebani setelah kita bosan akan kemunafikan dan hidup yang tak adil.
Cing, Aku berharap keajaiban turun dari langit seperti hujan membasahi negeri ini setelah sekian lama merasakan tandus.
Bayi-bayi yang menangis karna ibunya sudah tak mampu lagi membeli susu.
Anak-anak yang kehilngan tempat bermain karna tempat bermainnya telah didirikan bangunan bertingkat.
Para serjana muda yang menjadikan ijazahnya sebagai pembungkus nasi karna tak ada lagi lapangan pekerjaan.
Semua adalah mimpi buruk bagiku.
Cing, Apakah ini dunia yang kita impi-impikan, Apakah ini dunia yang kita
 idam-idamkan,setelah kita merasa bosan hidup dan ingin segera merasakan mati.
Cing, Kuharap kau pahami, Kuharap kau merasa, kuharap kaumelihat, seperti apa yang sedang kualami.
Cing, Kuharap keyakinanku akan terang diujung gelap tidak akan pernah memudar.


1 komentar:

  1. Keren kisanhya bro, jadi sedih bacanya :(
    di tunggu update kisah terbarunya =D

    BalasHapus